Kenapa Bulan?πŸŒ•πŸŒ™πŸŒ—πŸŒ’πŸŒ

Tahun 2019 menjadi bulan Desember pertama jauh dari "rumah". Merayakan ulang tahun ke-24 dalam sepi dan juga berbagai pergumulan hebat saat itu.

Berbagai macam pergumulan batin, relasi, pelayanan-pekerjaan, dan jarak yang jauh. 
Saat itu, enam bulan pertama saya melayani sepenuh waktu di gereja. Tempat saya tinggal berada di lantai dua gedung serbaguna gereja. Kamarnya nyaman, pakai AC, kamar mandi dalam, dan aman. Hanya saja, kesepian hebat menemani saya sejak Desember 2019 itu. Saya berada di tempat TUHAN membentuk saya. Pelayanan yang padat menguras mental untuk menyiapkan berbagai macam materi untuk melayani jemaat-Nya. Di sisi lain, saya merasakan bahagia. Saya bersukacita bisa melayani TUHAN dan disambut dengan respons yang baik dari jemaat. Hanya saja, ternyata realitas yang ada mengenai kesepian itu tidak bisa saya hindari. Ketidakhadiran orang tua, kedua adik, dan sahabat-sahabat terdekat rupanya menyerang saya dengan begitu hebat. Tahun 2021–2022 menjadi puncak kekacauan mental saya. Selain pandemi yang semakin membuat saya "sendiri" oleh karena interaksi yang dipaksa menjauh dari manusia. Dipaksa untuk berhadapan dengan benda-benda mati dan berbagai macam berita yang menakutkan. Papa, Mama yang sakit. Keluarga yang kena COVID-19. Intimidasi dari berita sungguh menyiksa. Ditambah, berakhirnya atau bisa dikatakan hancurnya relasi dengan seseorang. Semakin sempurna lah semua kesepian itu. Gedung putih tinggi yang sepi. Hufhh… jika saya harus mengingat masa itu, rasanya dada saya sesak. Napas saya tidak teratur. Ketakutan untuk mengulang hal itu menghantui saya.

Namun, langit selalu punya cara untuk menghibur. 
Sejak saat itu, saya jatuh cinta dengan benda langit Bulan.
Di kota itu, saya melihat terang bulan bersinar begitu indah. Apalagi masa covid. Di Jakarta, saya tidak pernah sadar bahwa bulan bisa seindah itu. Gambar langit malam dengan bulan yang bercahaya di atas kota, walau burem, itu memenuhi galeri handphone saya. Balkon di depan kamar saya luas dan setiap malam, ketika saya sedang risau hati, saya melihat ke langit... Apakah ada bulan? Ketika terang bulan bersinar saya  tahu, saya tidak sendiri. TUHAN beserta saya. Bisa berlama-lama saya menatap bulan dan berbicara kepada bulan tentang sepi yang saya rasakan. Tentang marah, kesedihan, kerinduan, dan berbagai hal yang ada dalam hati. Bulan yang benderang di atas kota rantau itu, menjadi pertanda kasih TUHAN untuk saya. Walau bumi ini penuh dengan pergumulan, lagi dan lagi langit selalu menghibur.
Aku suka sekali melihat bulan🌝.
Bulan mengingatkan aku akan kesendirian, kesunyian di kota rantau itu. Tentang penyertaan TUHAN dan orang-orang yang Dia sediakan, jauh maupun dekat. Di kota itu aku sangat jatuh cinta sama benda langit ini. Karena bisa lihat di balkon depan kamar. Di gedung besar tapi sepi itu. Merasa ditemani semesta. Sejak saat itu, bulan punya makna yang berbeda.

Saat ini saya sudah dua setengah tahun berada di rumah. Namun, setiap melihat langit malam kota Jakarta, saya selalu mencari bulan. Bahkan ketika saya tidak mencarinya dan bulan itu ada, senyuman tipis keluar dari wajah saya mengingat penyertaan TUHAN. Mengingat masa itu terlewati juga. Selama saya melihat bulan, saya selalu senang, selalu excited, bahkan ketika hari itu dilalui dengan berbagai masalah dan di penghujung malam langit memberikan bulan bersinar terang, semua kegundahan diganti dengan senyuman.

Pada akhirnya, selama Sang Pencipta selalu menemani saya sampai penghujung hari seberat apa pun hari itu, saya selalu terhibur, dikuatkan, dan merasa ditemani. Jadi, bulan bukan hanya tentang benda langit biasa, ia punya tempat tersendiri yang menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupan saya.

Jika kamu membuka galeri handphone saya dan melihat potret langit gelap malam, pasti karena ada terang bulan. Bahkan saya pun baru menyadari bahwa di postingan story tentang potret langit di Instagram saya banyak sekali langit gelap malam yang diterangi bulan. Tidak selalu bulan yang bulat sempurna; semua fase ada. Hanya terangnya yang saya butuhkan untuk memberikan senyum di wajah dan hati yang langsung gembira walau sebelumnya sendu.

Yang lebih saya suka lagi adalah fakta ilmiah bahwa bulan tidak bersinar sendiri. Itu membuat saya lebih jatuh hati lagi sama Bulan. Terang Bulan berasal dari pantulan cahaya Matahari yang menurut data, hanya memantulkan 7–12% cahaya Matahari. Tidak sampai 20%, namun sinar bulan sudah sangat terang di langit gelap itu. Permukaan Bulan yang kasar memantulkan kembali cahaya Matahari ke Bumi. Studi juga menjelaskan bahwa setiap tahunnya Bulan selalu bergerak menjauh dari Bumi karena pada zaman dahulu jarak Bulan terasa lebih dekat dan jelas. Namun, faktanya, terang benda itu tetap bersinar sampai saat ini. Walaupun tidak secerah Matahari, cahaya Bulan masih 100.000 kali lebih terang daripada bintang yang memiliki cahaya sendiri. 

Tetaplah bersinar tunggal dengan terang di langit malam yang gelap. Bulan kamu istimewa karena kamu terus memancarkan sinar itu. Bulan kamu istimewa karena kamu datang tidak seramai bintang dan terangmu membuat langit malam yang gelap menjadi berarti. Saya jarang sekali melihat banyaknya bintang di langit malam, apalagi di kota; nyaris tidak ada. Namun, hampir setiap malam saya selalu melihat bulan.

Itulah mengapa akan selalu bulan. Saya mungkin sendirian dan terkadang merasakan sepi, tetapi saya terus bercahaya. Cahaya itu dipantulkan dari Sumber Utama, TUHAN yang menciptakan saya. Tuhan Yesus, Sang Imanuel, itu selalu menemani saya. Kesepian tidak menjadi berarti karena terang Kristus selalu ada di dalam dan melalui saya.

Malam ini pun, bulan terang sekali di langit malam. Saya baru menemukan fakta baru bahwa setiap menjelang Hari Raya Paskah, bulan selalu muncul dengan fase full-moon yang begitu terang dan indah. Ternyata selalu terjadi setiap tahun. Jika TUHAN berkenan, saya akan melihat lagi menjelang Paskah tahun depan.

Komentar

Popular Posts

Faithfully

The Meaning I Got

Getsemani Punya Cerita

Sebuah Tulisan dari Alam