Kamis, Desember 05, 2024

Last Twenties!

Kata kebanyakan orang harus sudah ini, sudah itu, harus mencapai ini, mencapai itu.
Kataku harusnya bisa ini, bisa itu.
Katanya sih… katanyaa…

Dalam perjalanan satu dekade sejak menginjak usia 20 tahun, sudah ada beberapa keputusan yang salah ambil, keraguan pun ikut mengiringi perjalanan ini. Entah sudah berapa banyak ekspektasi pribadi yang runtuh. Namun, terdapat juga begitu banyak kebahagiaan dan pencapaian yang keren, diluar dugaan dan sudah tercapai dengan sangat memuaskan.

Banyak air mata kesedihan karena bingung menanggapi kehidupan yang tidak mudah, kesepian yang melanda, keretakan relasi dalam pertemanan yg ternyata sakit banget. Air mata karena berakhir dan retaknya percintaan, tangisan ketakutan, penyesalan dan banyak lagi air mata yang menyesakkan dada di satu dekade ini, tangisan di dalam kamar seorang diri maupun yang dibagikan kepada beberapa orang lainnya. Bersyukur juga untuk semua air mata sukacita bahkan yang diikuti dengan tarian sendiri di dalam kamar, melompat sebagai ekspresi sukacita dan kegembiraan yang tak terkatakan, tertawa yang penuh dengan ekspresi seorang diri maupun bersama di sepuluh tahun terkahir ini. Tawa dan tangis sungguh menemani perjalanan ini. Ekspresi- ekspresi itu membuatku tetap waras dan dapat menari di tengah hujan.

Genap berusia 29 tahun hari ini menjadi sebuah pencapaian yang membahagiakan sekaliglus memuaskan buatku secara pribadi. Ternyata 29 tahun tidak semenakutkan yang kupikirkan. Twenty nine will be another age that I will cherish all my way. Sukacita berlimpah yang diluar ekspektasi pun diraih dengan menyenangkan. Pada akhirnya, gimana sudut pandang dan respons saja.

Hal yang membuat puas dengan segala yang kurang sampai saat ini adalah menjalani semuanya dengan pimpinan dan bersama Tuhan. Sudah dibuktikan walaupun tidak sesuai dengan kataku dan kata orang, tetapi mengikuti Tuhan itu paling memuaskan! Mungkin terdengar cliche dan agak naif, tapi realitasnya seperti itu. Rencana Tuhan memang berbeda dari rencana manusia. Sejauh langit (yg harus naik pesawat atau jet) dari bumi (daratan luas), bahkan lebih dalam dari lautan (yang gabisa diselami). Aku akan selalu percaya bahwa, itu pasti yang terbaik. Dalam satu dekade di usia 20an sungguh membuatku mengenal lebih dalam lagi siapa Tuhan dengan perspektif yang berbeda. Dia sungguh satu-satunya Pribadi yang setia mengiringi perjalanan hidupku. Tanpa Tuhan dipastikan aku collapse menjalani masa dewasa muda ini.

“Hitung saja berkatmu secara personal, tanpa komparasi dengan berkat orang lain maka kamu akan menemukan kepuasan sejati dari Sang Pemberi berkat."

"Happy Last Birthday in your 20s, Elsa! Tidak perlu dengar kata orang dan kata pikiranmu yang salah itu. Ikuti saja tuntunan Tuhan satu persatu yang menakjubkan itu. You’ll have joy and fullness.”

#29th

Jumat, November 01, 2024

An Intimacy

Menikmati hadirat Allah hanya berdua dengan-Nya dapat menceritakan apapun kepada-Nya secara bebas, dengan ekspresif dan penuh antusias, adalah relasi yang dibangun bersama dengan Allah selama ini. Mampu merasakan suatu sensasi yang intim ketika saya berdiam dalam hadirat-Nya, ketika saya mampu untuk mengungkapkan dengan kata-kata yang memuja Allah, bahkan menyalurkannya lewat tulisan tangan yang diibaratkan seperti surat cinta untuk Tuhan.

Buku catatan itu menuliskan apapun yang dialami bersama dengan Tuhan di sepanjang hari atau minggu yang telah berlalu. Menulis mengingatkan ragam kisah yang telah terjadi. Sebuah tulisan dalam buku itu menjadi kumpulan kisah hidup yang Allah tuliskan spesifik untuk saya. Setiap kali sukacita penuh atau kesedihan yang mendalam, menuangkan itu ke dalam tulisan kepada Tuhan membuat relasi itu terikat kuat.

Tulisan mampu membuat saya mengucap syukur kepada Allah atas apa yang saya alami. Misalnya, saya menjadi lebih menghargai berkat yang Tuhan berikan, dan saya semakin menyadari bahwa terkadang Allah memberikan sesuatu lebih daripada yang saya minta. Hal itu terjadi ketika saya menuliskan kisah sukacita. Kemudian, ketika saya harus meluapkan emosi dengan marah dan kekecewaan kepada Allah dalam kisah sedih, hal itu membuat saya menjadi lebih lega dan emosi saya dapat dikendalikan. Sungguh, melalui ritme ini, saya benar-benar dapat menikmati hadirat Allah.

Hal yang membuat saya takjub adalah dampak dari tulisan itu bukan hanya untuk hari dan saat itu saja. Namun, ketika waktu dan tahun-tahun telah berlalu, kemudian saya membaca ulang dalam buku itu, saya mendapatkan kekuatan, penghiburan, teguran dan pengajaran kembali. Sebuah perjalanan yang begitu indah dan saya selalu menikmati itu bersama Allah.

Terkadang juga, dalam diam, saya terduduk di atas kasur, atau di tengah-tengah perjalanan, saya dapat membayangkan kehadiran Allah di samping saya, dan Ia sedang mendengarkan cerita saya yang banyak itu. Di manapun, ketika pikiran saya fokus kepada-Nya, saya mampu untuk masuk dan mengalami Dia. Terutama ketika saya berada di alam terbuka dan menyaksikan keindahan ciptaan-Nya. Selain kontemplatif, ritme kudus naturalis menjadi cara saya untuk mengalami kasih-Nya. Ketika dua ritme itu dikombinasi menjadi satu, saya mampu untuk lebih dalam lagi masuk dalam hadirat Allah, berdua dengan-Nya. Sebuah relasi intimasi yang tidak akan saya dapatkan dari banyaknya relasi dalam dunia ini.

Beberapa kali saya sering pergi ke taman untuk menikmati waktu berdua, bersama dengan Allah. Saat itu saya akan membawa Alkitab, pena, dan sebuah buku yang siap menuliskan beberapa kisah indah bersama-Nya. Jika tidak ada waktu untuk keluar, maka saya memilih duduk di depan meja belajar yang menghadap jendela kamar atau jendela di kelas, kemudian melihat langit, pohon, burung-burung berterbangan, dan saya mulai menikmati waktu bersama dengan Allah. Hal ini bisa berlaku pada langit pagi, siang, dan malam, dengan sensasi yang intim dengan Allah. Ini adalah suatu ritme dan irama yang memikat saya untuk lebih dalam lagi mengenal siapa Allah saya, mengenal diri saya dan apa yang Ia ingin lakukan melalui, kepada dan bersama saya. 

-Catatan kelas, tahun 2018-


Setelah enam tahun tulisan di atas saya tulis, tahun ini, saya masih terus menjalani hari-hari yang penuh dengan tantangan, yang terkadang diiringi dengan susah hati dan tentu saja sukacita di dalamnya. Namun, rasa intimasi bersama Tuhan senantiasa menyertai perjalanan saya, walau relasi ini menjadi fluktuatif dengan cara yang berbeda oleh karena banyaknya kisah yang sudah terlukis sepanjang perjalanan. Saya percaya Tuhan senantiasa dekat, bahkan ketika saya tidak bisa merasakan kehadiran-Nya oleh karena banyaknya beban persoalan, Dia tetap dekat. Saya percaya karena dalam setiap langkah yang berat, Ia selalu menyediakan kekuatan dan jalan keluar. Dia adalah Allah yang menyertai. Teman seperjalanan yang tidak pernah meninggalkan.

Oleh sebab itu, saat ini Mazmur 63 adalah surat cinta antara Allah dan manusia yang sedang saya nikmati.

Mazmur 63
Merindukan Allah

Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.
Ya Allah, Engkau Allahku, pagi-pagi aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair.
Demikianlah aku mengarahkan mata pada-Mu di tempat kudus, untuk melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.
Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.
Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menyebut nama-Mu dengan tangan terangkat.
Jiwaku dikenyangkan seperti dengan sumsum yang terlezat, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku menyanyikan puji-pujian.
Saat aku mengingat Engkau di tempat tidurku, aku merenungkan Dikau sepanjang jaga malam;
sebab Engkau telah menjadi pertolonganku, dan di bawah naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.
Jiwaku melekat pada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

(TB2 - ay. 1-9) 

Selasa, Desember 26, 2023

The Broken Christmas ~ Natal yang Hancur


Natal gak selalu harus meriah, Natal bisa sesederhana duduk di rumah bersama dan makan masakan yang enak buatan keluarga. Natal juga bisa tentang menemani orang sakit di tempat-tempat tidur yang untuk duduk saja mereka perlu perjuangan. Natal gak selalu identik dengan sukacita karena ada banyak juga duka, kesukaran bahkan air mata kesedihan menetes di hari-hari menjelang atau dalam masa raya Natal. Natal gak selalu harus dalam keadaan yang terlihat berlimpah dengan makanan enak atau pakaian-pakaian baru. Kenyataannya banyak juga yang merayakan Natal dalam kekurangan dan bahkan tidak memiliki apapun. Banyak juga yang merayakan natal di bawah puing-puing kehancuran secara fisik, psikis, maupun rohani. Natal tidak harus berwarna merah, hijau, emas, atau warna ceria lainnya karena ada juga yang merayakan Natal dengan warna kelabu.

Natal adalah tentang kehadiran. Kehadiran Allah dalam Yesus Kristus. Itulah Natal.

Broken Christmas menjadi hal yang dapat saja terjadi pada siapa pun. Natal yang hancur. Hancur dalam perasaan, hancur dalam dosa, hancur dalam keterpurukan tetapi justru dari dalam kehancuran itulah terang Natal terpancar dengan cemerlang.

Kristus hadir dalam kehancuran dunia. Kristus hadir dalam dunia yang gelap, buta dan bahkan tidak menyadari sudah sehancur apa mereka. Kristus hadir dalam kesunyian malam, di tempat yang sederhana, hanya dibungkus kain lampin dan diletakan di atas palungan. Bayi mungil itu didampingi ibu dan ayah yang juga sederhana. Sesederhana itu tapi justru dari tempat yang sederhana dan sunyi itu datang suatu pengharapan besar. Keselamatan bagi umat manusia, yang percaya kepada-Nya.

Apakah sulit menemukan damai dan sukacita di tengah kesunyian dan kehancuran? Beberapa orang dapat menjawab, "Iya, sangat sulit!"
Menurut saya itu tidak menjadi soal tetapi perlu diketahui, jawaban sementara itu tidak berpengaruh untuk meniadakan pengharapan kekal yang Kristus berikan. Pengharapan itu akan selalu ada. Pengharapan yang digenapi di hari Natal tetap selalu relevan bagi mereka yang mengalami Broken Christmas. Pengharapan yang Kristus bawa itu akan selalu tersedia di sana, di dalam palungan sederhana.

Mari datang dan hampiri palungan itu dengan hati yang hancur untuk merasakan kembali kasih Bapa di dalam bayi Yesus, Sang Mesias. Ada pengharapan bahkan di tengah-tengah kehancuran.

Tidak selamanya langit kelabu, tidak selamanya yang kelabu itu buruk. Warna kelabu dapat menjadi pengharapan yang berbeda dari warna cerah. Hati yang hancur tak selamanya harus dihindari, kehancuran itu dapat menjadi sesuatu yang berharga di tangan yang tepat. Tangan Allah.

Hal yang paling saya suka dari Natal adalah: Imanuel, Allah menyertai kita

["Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" - yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1:23]

Selamat Natal 2023🎄

Selasa, Oktober 18, 2022

Peace Inside, Calm Outside

Hai...

Pernah nggak sih kalian kacau banget dari dalam diri, tapi orang-orang lihatnya kalian baik-baik saja?

Orang-orang menilai bahwa kita baik-baik saja, terlihat independen dan menyenangkan selalu. 
Hufh... padahal nggak gitu hehehe... pergumulan mah ada aja, selalu bahkan. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang akan tahu betapa kusut dan rumitnya hati dan pikiran kita.

I don't know how to explain that.

Seperti beberapa hari ini, rasanya rumit banget hati dan pikiran. Seperti ada tabrakan dan kekacauan kota. Banyak banget yang harus dikerjakan, dipikirkan, overwhelm banget, tapi saya bersyukur dalam segala keadaan Tuhan selalu bersama saya. Meskipun kadang kekacauan itu buat saya berat banget untuk sekadar duduk dan berdoa. Haha malah tidur atau scroll medsos tapi pikiran nggak ke apa yang saya lihat. But I am glad to proclaim that Jesus always has a way to drag me close to Him.

Baca renungan di handphone, baca Alkitab, dengar pujian penyembahan, dan baca buku rohani sungguh menolong untuk kembali bangkit. Healing sejati adalah duduk diam dan mendengarkan Tuhan. Kadang capek juga buat jelasin ke Tuhan melalui doa apa yang ada dalam pikiran, nggak semua kata-kata dan bahasa bisa menjelaskannya. Memilih untuk berdiam dan mendengarkan itu sangat amat menolong untuk pulih kembali.

Beginilah, memang proses pertumbuhan rohani itu seumur hidup.

Last Twenties!

Kata kebanyakan orang harus sudah ini, sudah itu, harus mencapai ini, mencapai itu. Kataku harusnya bisa ini, bisa itu. Katanya sih… katanya...